Senin, 30 Juli 2012

KERAKATAU adalah sindiran alam bagi bagi kera yang tahu.

Menjalani kehidupan dengan cermat merupakan rakhmat yang datang dari sang pemberi rakhmat itu sendiri, yaitu Sang Maha Rakhmat. Terkadang, tanpa disadari sang pemberi rakhmat memberikan karunianya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. untuk melihat siapa yang mendapat rakhmat tersebut, dibutuhkan rakhmat lain yaitu tuhan memberikan rakhmat kepada seseorang sehingga dapat melihat bahwa orang lain sedang mendapat rakhmat. Antara pemilik rakhmat dan penilik yang dirakhmati, merupakan dua hal yang berbeda tetapi sangat bergantung satu dengan lainnya. Keduanya, tak mungkin dipisahkan karena satu hal menjadi penentu kehadiran lainnya. Dapat digambarkan sebagai 'ada' dan sifat ada itu sendiri. Jarak keduanya, tak hingga seperti hadirnya sinar matahari dan panas matahari. Sinar matahari dibutuhkan untuk melakukan fotosintesa, yaitu sebuah proses awal kehidupan, sebaliknya, panas matahari dibutuhkan justru untuk proses degradasi menuju kepunahan. Dua hal yang sangat kontradiktif tersebut, pada waktu belakagan ini dirasa semakin dekat dan terus mendekat. Proses pendekatan keduanya, dipicu oleh beberapa hal, antara lain: tentu saja adalah hasil karya manusia itu sendiri. Seberapa besar andil manusia terhadap pertemuan ada dan sifat ada, sangat bergantung pada usaha penciptaan yang sekaligus penggunaannya. Seperti penemuan energi dan akibat kelangkaan energi, penemuan kendaraan berbahan BBM dan sekaligus kelangkaan BBM, penemuan uang dan sekaligus penuhanan keuangan, penemuan MSG yang sekaligus meracuni kemausiaan itu sendiri, penemuan biji timah yang sekaligus digunakan untuk merengut nyawa, dan paling mutakhir adalah penemuan IT yang sekaligus membuat sesuatunya berskala besar dan mendunia, tanpa bisa dicegah.

Jika ada dan sifat ada merupakan makhluk, maka dari jalinan kebutuhan inilah, kedua makhluk tersebut sama-sama mencari untuk dapat bertemu dan menyatu. Dengan keduanya bersatu maka bak senjata sakti yang tak tertandingi, yaitu senjatanya Yoko dan sang bibi "pedang langit dan bumi" dari partai makam kuno, makam sang wali.

Kisah cinta dua makhluk yang harus terpisah karena SARA, yang membelenggu keadaan dimana hanya waktulah yang dapat mempertemukan dan melepas belenggu keduanya sudah semakin dekat. Waktu, dimana batas antara baik buruk, benar salah, elok nista, telah sampai pada jarak yang sangat tipis, yaitu niatan. Perjalanan keduanya untuk menembus dinding pemisah benar-benar membuat kaula tercengang, bagaimana tidak, untuk menembusnya hampir semua dimensi telah dipertaruhkan, seperti harta, IT, sahabat, keluarga, dan bahkan keyakinan.

Ini adalah episode sebuah kisah cinta penghujung jaman, kebalikan dari kisah cinta adam dan hawa. jika Adam bertekuk lutut oleh bujukan hawa maka keduanya turun ke bumi, maka kisah ini adalah bertekuk lututnya seorang hawa oleh rayuan adam, sehingga keduanya harus kembali naik ke langit.

Waktu telah sampai penunjukan HARTATI, dimana HARTA dan IT dipakai sebagai kunci pembuka HART and ATI, atau HARTa dan parTAI, menjadi panglima menuju keabadiaan cinta, eternity love yang tak kan pernah terpisahkan walau dengan diktum SARA sekali pun.

Ruang yang dibutuhkan sebagai bagian dimana Budha meletakkan tahtanya untuk mencari tempat dalam mengartikan siapa aku, dengan meletakkan semua jabatan dunianya. Juga hal yang sama terjadi sebelumnya, yaitu dilakukan oleh Muhammad saat meletakkan atributnya sebagai khalifah tatkala menyadari arti keruangan bagi aku. Telah sampai pada penghujung kehidupan, dimana ruang yang dibutuhkan oleh kedua makhluk tersebut menyatu nyaris tercapai. Ketercapaian tersebut berkat dorongan energi hartati, dalam bentuk pengalihan keruangan menjadi keuangan, dari meletakkan kekuasaan menuju penguasa, dari meninggikan astana menuju istana.

Pertemuan tersebut hanya menunggu penentuan tempat. Masih menjadi puncak rahasia adalah tempat dimana pertemuan tersebut akan dilakukan. Menentukan tempat yang paling tepat adalah sebuah karunia yang hanya bisa diucapkan dalam alunan tembang kasmaran dan untaian doa.

dari sinilah sebuah kisah cinta yang panjang, dan segera akan dituturkan sebagai pengiring bisikan jagad terhadap kejadian apa yang bakal dilampahi oleh negeri ini.
Sebuah bisikan yang berharap mendapat bimbingan menuju pencapaian tujuan dengan presisi, tanpa mengumbar janji, karena dada krakatau telah bergemuruh oleh ulah agung yang moro-moro ambles.

selain bendungan, mungkin shelter dan konstruksi tahan gempa merupakan tuntutan pembangunan negeri ini. Shelter dibutuhkan untuk memayungi diri dari sengatan api mentari, konstruksi tahan gempa dipersiapkan untuk mengikuti goyangan irama bumi. Karena lava adalah satu-satunya obat penyubur tanah pertiwi untuk mengobati tenggelamnya peradaban ala babilonia, yang tak terlampaui. Maka pada kisah selanjutnya, adalah pertahanan diri dapat diibaratkan bagaikan shelter. Kostruksi tahan gempa sendiri dapat diibaratkan seperti geligi kepompong saat menahan amukan cuaca sebagai ujian menapaki jatidiri, menuju janji abadi yaitu menyatunya ada dan sifat ada itu sendiri.

Melewati semua kejadian dengan rasa bahagia merupakan kunci sukses dan akan menjadi pokok bahasan yang menarik untuk disimak sebagai awal persiapan rancangan cerita. Cerita selanjutnya adalah bagaimana melihat pengalaman AAA menapakai semua kesulitan karena keadaan yang ternyata dipersiapkan untuk memahami adanya sesuatu yang lebih dahsyat. Oleh karena itu, memahami dengan keteguhan hati akan mengantarkan diri melewati perjalanan dengan cermat dan tepat. Sangat mustahil bisa mengatakan sifat jika tidak menjadi, alih-alih yang terkaji hanya sebuah janji yang tak pasti, seperti menebak rasa mangga. Teknologi hanya dapat membuat esen mangga bukan energi mangga. Hanya dengan cahaya hati, pohon jati dapat ditangkap sebagai isyarat bahwa didilamnya terkandung energi. Di dalam melewati perubahan iklim justru jati menunjukkan kekuatannya dalam bentuk lingkaran tahun. Selain itu, isyarat lain yang dapat ditunjukkan adalah alam yang menciptakan lahirnya pohon jati adalah rangkaian batu alam yang berlapis, makin ke dalam makin kuat seperti pualam. Lain lagi jika yang tumbuh dipermukaan adalah pohon salam, maka semakin kedalam adalah lapisan air dan mata air yang yang tak kan pernah berhenti mengalir. Bagi hati yang punya mata hati, tak perlu menggali, cukup hanya mengkaji dan menyadari betapa kayanya pertiwi. Karena dengan menggali maka merapi pasti meratapi, lapindo ngiler karena melongo, dan kerakatau menanti untuk menepati janji. Janji menghapus kesempatan hujan belati seperti terpisahnya antara si kaya dan simiskin dalam bentuk jurang pemisah.

Energi manusia bukan dari perut bumi tapi dari permukaannya, sesuai dengan jaring-jaring makanan. Hanya makhluk yang terbuat dari besi energinya pasti dari perut bumi, seperti karya yang terbuat dari besi, alih-alih makan diri sendiri. Sehingga sangat kurang tepat jika puncak dari predator adalah manusia, karena manusia dapat dikalahkan oleh mesin yang dia buat sendiri, dengan penggertian yang sesungguhnya. Seperti takluknya hawa oleh adam karena telephon, suara tanpa rupa.

Yah.....
KERAKATAU......
KERA.....
KAh?......
TAO......